News Update

Home / Ekonomi dan Bisnis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Menko PMK Ajak Pemuda Jadi Penggerak Perubahan, Bukan Sekadar Penonton

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengajak generasi muda Indonesia menjadi penggerak perubahan yang aktif berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pemuda dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan Indonesia di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengajak generasi muda Indonesia menjadi penggerak perubahan yang aktif berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pemuda dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan Indonesia di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi.

JAKARTA –  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengajak generasi muda Indonesia menjadi penggerak perubahan yang aktif berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pemuda dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan Indonesia di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi.

Pesan tersebut disampaikan Sugiono saat membuka Indonesia Youth Summit 2026 dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (30/10).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Letjen TNI (Purn.) Lodewijk Friederich Paulus, sejumlah gubernur, serta generasi muda dari berbagai daerah.

Dalam sambutannya, Sugiono mengajak para pemuda menentukan peran yang ingin mereka ambil dalam menghadapi berbagai perubahan. Ia membagi manusia ke dalam tiga kelompok, yakni mereka yang menciptakan perubahan, mereka yang menyaksikan perubahan, dan mereka yang baru menyadari apa yang telah terjadi.

Sugiono kemudian meminta para peserta memilih kelompok yang ingin mereka masuki. Mayoritas peserta memilih menjadi kelompok pertama, yaitu mereka yang membuat perubahan terjadi.

Menurut Sugiono, pilihan tersebut mencerminkan optimisme bahwa generasi muda memiliki tekad untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.

“Artinya ada harapan optimisme ke depan negara ini akan menjadi negara besar. Negara maju karena anak-anak muda adalah those who make things happen,” ujar Sugiono.

Ia menilai semangat untuk menciptakan perubahan tersebut sejalan dengan perjuangan para pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Kala itu, pemuda dari berbagai suku dan latar belakang menyatukan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia.

Sugiono mengatakan para pemuda pada masa tersebut memiliki keberanian untuk memperjuangkan cita-cita besar meskipun Indonesia masih berada di bawah penjajahan. Keterbatasan akses pendidikan dan tidak adanya kebebasan tidak menyurutkan tekad mereka untuk mewujudkan kemerdekaan.

“Mereka bermimpi untuk jadi bagian dari sebuah negara yang bahkan merdeka saja belum. Tantangan yang mereka hadapi saat itu kita masih dijajah. Tidak ada kebebasan. Hanya golongan kecil yang boleh mendapatkan pendidikan. Tapi semua tantangan itu mereka hadapi demi sebuah mimpi untuk melihat bangsanya merdeka,” ungkapnya.

Berkaca dari sejarah tersebut, Sugiono menegaskan keberagaman merupakan anugerah sekaligus kekuatan bangsa Indonesia yang harus terus dipelihara.

Menurutnya, perbedaan suku dan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk terpecah belah. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi modal untuk memperkuat persatuan dan mendorong pembangunan nasional.

“Perbedaan bagi bangsa Indonesia adalah anugerah. Perbedaan bagi bangsa Indonesia adalah modal, perbedaan bagi bangsa Indonesia adalah kekuatan. Dan itulah yang terus harus kita jaga dan harus kita pelihara tanpa membesar-besarkan perbedaan itu. Kita jadikan semuanya sebagai satu kesatuan,” tegasnya.

Pemuda Hadapi Persaingan Global

Sugiono juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari persaingan dengan pemuda negara lain hingga pesatnya perkembangan teknologi informasi dan globalisasi.

Karena itu, ia menilai generasi muda perlu terus meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan, serta memperkuat solidaritas agar mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa.

Sejalan dengan tema peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, yakni “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, Sugiono menekankan tiga karakter tersebut sebagai modal penting bagi pemuda untuk berkontribusi bagi kemajuan negara.

Ia mencontohkan perjalanan Taufik Hidayat, legenda bulu tangkis Indonesia yang kini menjabat Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, sebagai gambaran kegigihan dan kecintaan terhadap Tanah Air melalui prestasi.

Menurut Sugiono, semangat patriotisme dan kerja keras dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, tidak terbatas pada olahraga. Generasi muda perlu menunjukkan kemampuan terbaiknya sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Selain patriotisme dan kegigihan, Sugiono menekankan pentingnya empati dalam kehidupan bermasyarakat. Kemampuan memahami kondisi dan perasaan orang lain dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat persatuan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kepedulian terhadap sesama dan kesediaan untuk bekerja bersama.

Jangan Sia-siakan Kesempatan

Menutup sambutannya, Sugiono mengajak generasi muda untuk terus belajar, memperluas perspektif, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri.

Ia mendorong pemuda memperbanyak membaca, mendengar, dan mengamati perkembangan di sekitarnya agar mampu memahami berbagai persoalan dan menemukan peluang untuk berkontribusi.

“Perbanyaklah melihat, banyaklah mendengar, banyaklah membaca. Buka wawasan seluas-luasnya. Ambil setiap kesempatan, rebut setiap kesempatan, cari setiap kesempatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih baik lagi,” pesannya.

Sugiono juga mengingatkan generasi muda agar tidak menganggap kemerdekaan dan persatuan Indonesia sebagai sesuatu yang hadir dengan sendirinya.

Menurutnya, kemerdekaan merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu yang harus dihargai dan dijaga oleh generasi saat ini. Semangat Sumpah Pemuda pun tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Sering kali kita menganggap kemerdekaan yang kita miliki sebagai sesuatu yang bisa take it for granted. Sering kita menganggap Sumpah Pemuda bagian dari lembaran sejarah. Tetapi tanpa perjuangan itu semua kita tidak mungkin duduk di sini, kita tidak mungkin jadi bangsa yang merdeka, dan tidak mungkin jadi bangsa yang berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” pungkasnya.

 

Ditulis oleh Maikal

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊